DARI CITA-CITA DI BANGKU SEKOLAH MENUJU PASAR GLOBAL: BELAJAR EKSPOR SEJAK DINI MELALUI DISCOVERY LEARNING
![]() |
| Pembelajaran Menyenangkan di Kelas Sumber: Dokumentasi pribadi |
“Eksportir genting, bu ….”
Dari sekian banyak siswa yang sebagian besar menjawab ingin jadi dokter,
guru, CEO, gamers, dan profesi lainnya, jawaban siswa tersebut yang
menurut saya, berbeda dari yang lain. Sebut saja namanya Arsya. Orang tuanya
memang pengusaha genting tanah liat. Meski masih skala lokal, orang tua Arsya mampu
membuka lapangan pekerjaan untuk lima orang pekerja.
Jawaban Arsya yang cukup menarik ini memancing saya memberi pertanyaan
lanjutan, terutama bagi siswa yang belum menjawab.
“Apakah ada yang tertarik juga untuk menjadi eksportir seperti Arsya?”
Beberapa siswa mengangkat tangan malu-malu.
“Kenapa ingin jadi eksportir?”
“Saya ingin membuka lapangan pekerjaan yang banyak, bu. Karena banyak sekali
laki-laki usia kerja yang tidak punya pekerjaan di kampung halaman saya”.
Cita-cita yang sangat mulia. Banyak siswa yang memiliki cita-cita
sebagai pekerja, tapi jarang yang bercita-cita ingin menjadi eksportir dan memperkerjakan
banyak orang. Sekolah tempat saya mengajar memang dikelilingi puluhan pondok
pesantren. Siswa tersebut tinggal di salah satu pondok pesantren dan berasal
dari daerah yang cukup terpencil, jauh dari sekolah maupun pusat kota.
Ketika saya menanyakan komoditas apa yang akan mereka ekspor, beberapa
masih bingung. Oleh karena itu, saya merasa perlu memberikan semangat pada
mereka untuk mengetahui komoditas apa yang berpotensi besar dan memiliki nilai
jual tinggi di pasar global. Terutama yang banyak ditemui di daerah tempat tinggal
mereka. Lantas, apa yang bisa saya - sebagai guru IPA - bisa ajarkan tentang
ekspor?
Beberapa model dan pendekatan pembelajaran bisa diterapkan untuk
menjawab pertanyaan ini. Model pembelajaran discovery learning termasuk salah
satu di antaranya. Ada enam langkah dalam pelaksanaanya, yaitu stimulasi, identifikasi
masalah, pengumpulan data, olah data, pembuktian, dan menarik kesimpulan.
![]() |
| Langkah-langkah Discovery Learning Sumber: ruangkerja.id/blog/discovery-learning |
Langkah pertama bisa diberikan stimulasi berupa contoh nyata untuk
dijadikan model, yaitu eksportir yang berhasil menggeluti dunia ekspor. Misalnya
Dewi Harlas yang cukup populer di media sosial beberapa waktu lalu setelah membagikan
pengalaman jatuh bangun perjuangannya membangun usaha hingga akhirnya berhasil
menjadi eksportir yang memberdayakan masyarakat sekitar rumahnya.
Komoditas yang diekspornya pun cukup unik dan mungkin tidak terpikirkan
oleh yang lain, yaitu daun pisang. Berawal dari banyaknya pohon pisang di
belakang rumah, Dewi mencoba untuk menjual daun pisang ke pasar mancanegara dan
mendapat pesanan awal di 250 kilogram dari pembeli di Australia. Selain daun
pisang, Dewi juga mengekspor serabut kelapa dan beberapa komoditas ekspor
lainnya.
![]() |
| Daun pisang sebagai komoditas ekspor Sumber: food.detik.com |
Langkah berikutnya, minta siswa untuk mengidentifikasi dan menggali
potensi alam di sekitar tempat tinggal mereka. Apa saja produk alam yang melimpah,
memiliki keunikan, nilai jual, dan berpotensi untuk dijadikan komoditas ekspor?
Jika hasil kebun dan rempah-rempah tumbuh subur, maka bisa dijadikan komoditas
ekspor. Proses ‘menemukan’ ini bisa membangun rasa ingin tahu dan kemandirian. Pasti
akan ada banyak jawaban yang menarik dari temuan-temuan mereka.
Selanjutnya siswa mengumpulkan data yang diperoleh. Data tersebut dibagi
ke dalam dua kategori, yaitu hasil pertanian dan perkebunan yang siap jual atau
produk yang harus diolah dulu sebelum memiliki nilai jual tinggi. Hasli pertanian
dan perkebunan perlu pengemasan yang sesuai agar masih terlihat segar sampai ke
tangan konsumen.
Sedangkan untuk komoditas yang perlu pengolahan terlebih dahulu, maka
perlu dipastikan kandungan nutrisinya tidak banyak yang hilang. Misalnya dalam
pembelajaran IPA, terdapat materi Bioteknologi yang umumnya ada praktikum Bioteknologi
Konvensional, yaitu membuat produk pangan. Ada yang membuat tempe, tapai
singkong, tapai ketan, donat, roti, hingga yoghurt.
Salah satu produk yang laris di pasaran setelah beberapa kali pengolahan
yaitu singkong. Setelah mengalami fermentasi menjadi tapai singkong, harus
segera dikonsumsi karena jika sudah berair, kandungan alkoholnya meningkat.
Namun jika melimpah dan melebihi permintaan pasar, tapai bisa diolah
menjadi gabin tapai, bolu tapai, roll tapai, tapai singkong goreng,
tapai bakar keju, es tapai gula merah, dan masih banyak lagi. Begitupula jika
salah satu produk rempah dan buah-buahan melimpah, bisa dibuat keripik. Inovasi
produk dan kejelian membaca permintaan pasar ini sangat penting untuk melatih
kreativitas dan keberanian siswa dalam mengambil risiko.
Data komoditas tersebut kemudian dicocokkan dengan permintaan pasar global,
seperti memilih negara yang memiliki permintaan paling tinggi, mencari tahu kebijakan
ekspor, pengemasan yang sesuai standar komoditas ekspor, fitosanitari atau berkas
lain yang harus dilengkapi, serta syarat lainnya.
Setelah memperoleh data komoditas yang paling memungkinkan untuk dijual
di pasar global, langkah selanjutnya membutuhkan proses yang cukup panjang,
yaitu pembuktian. Siswa diminta untuk menjual produk berpotensi ekspor pada
skala lokal terlebih dahulu, yaitu di sekitar sekolah, rumah, maupun pondok
pesantren.
Permintaan pada pasar global memang tidak selalu sama dengan pasar
lokal, tetapi jika masih dalam lingkup wilayah yang sama, maka memiliki
kecenderungan lidah yang sama. Kalaupun tidak, bisa kembali dilakukan riset terhadap
negara yang memiliki permintaan paling banyak terhadap produk kita.
Langkah terakhir, membuat kesimpulan terkait produk-produk yang bisa
dijadikan komoditas ekspor, negara tujuan ekspor, inovasi produk, risiko
bisnis, pengemasan, syarat ekspor, dan lainnya. Kemudian, diambil 1-2 produk
untuk digeluti dan diperdalam.
Model discovery learning dapat disederhanakan menjadi proses
menemukan, menyelidiki, dan menyimpulkan. Model pembelajaran ini sejalan dengan
Pendekatan Pembelajaran Mendalam yang menjadi bagian kurikulum saat ini. Baik
dari segi Kerangka Pembelajaran, Pengalaman Belajar, Prinsip Pembelajaran, maupun
Dimensi Profil Lulusan.
Beragam impian dan cita-cita siswa seringkali pupus seiring meningkatnya
jenjang pendidikan mereka. Banyak dari mereka yang tidak sanggup melewati
rintangan selama perjalanan menuju cita-cita yang mereka impikan. Ada yang
karena faktor biaya, persyaratan yang rumit, hingga kurangnya support system.
Namun demikian, semuanya kembali pada keteguhan hati dan tekad mereka. Tugas kita sebagai orang tua, pengajar, dan pendidiklah yang menguatkan tekad mereka untuk mewujudkan cita-cita yang diimpikan. Mari kita bimbing dan bersamai mereka hingga mereka berani untuk bertumbuh, berkembang, dan maju menjadi Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing di level internasional.



Komentar
Posting Komentar